Breaking News
Home / Law / Masih Perlukah Ujian Nasional?

Masih Perlukah Ujian Nasional?

Tulisan terkait Ujian Nasional ini mungkin sudah tidak hangat lagi tapi patut diketahui. Tulisan ini berdasarkan hasil wawancara dengan dua orang siswa setara SMA dan satu orang siswa peserta ujian nasional SMP pada tanggal 20, 22 dan 24 April 2017. MHL merupakan siswa School of Universe (Homeschooling) mengikuti UN Tahun 2017, DG mengikuti merupakan siswa SMK Binamitra mengikuti UN pada tahun 2017, dan FAA sekarang siswa SMA mengikuti UN di SMPN 3 Cibarusah pada tahun 2016. Saya menemukan beberapa ketidakadilan dan ketidakwajaran tenaga pendidik dan terhadap fasilitas sekolah antara satu siswa dengan siswa lainnya antar sekolah.

Ujian Nasional Tidak Dapat Dijadikan Ukuran Kelulusan

Ujian Nasional menurut beberapa siswa yang telah saya wawancarai mengatakan bahwa Ujian Nasional tidak dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk menentukan kelulusan siswa. MHL merupakan siswa homeschooling yang setara dengan tingkat SMA. Menurutnya setelah sekolah beberapa tahun yang dilakukan siswa namun yang menentukan kelulusan adalah negara yang sama sekali tidak memahami seorang siswa, “kalau ujung-ujungnya negara, mendingan ga usah sekolah, kaya saya gitu (homeschooling)”. Disisi lain, pada tingkat SMK dan SMP, ditingkat SMK, DG menginginkan Ujian Nasional jika memang tetap dilaksanakan, seharusnya ada ujian praktik sehingga menunjang kemampuan di dunia kerja. Dan ditingkat SMP, ia tidak menyetujui UN dijadikan tolak ukur kelulusan atau kepandaian, menurut FAA terdapat siswa yang di sekolah tidak begitu cemerlang namun ketika UN ia mendapatkan nilai yang sama dengannya.

Fasilitas Tidak Memadai

Setiap wawancara yang saya lakukan, selalu mengatakan fasilitas yang tidak lengkap. Menurut saya, ketika pemerintah menyamaratakan soal-soal ujian nasional kepada semua sekolah, hal ini menjadi tidak adil karena tiap sekolah memiliki fasilitas yang tidak sama. Terdapat siswa yang sekolahnya tidak memiliki fasilitas yang memadai. Siswa DG, tidak memiliki lab komputer yang memadai. Bahkan FAA, ditingkat SMP, lab komputer tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan siswa, selain itu sekolah FAA kecurian komputer yang ada di lab sekolahnya, sehingga menambah kekurangan fasilitas komputer disekolahnya.

Kualitas Guru

Tiap siswa berhak menerima pelajaran, namun tidak semua siswa di Indonesia memiliki kualitas guru yang sama, tak jarang Guru tidak masuk. Ketika guru jarang masuk untuk memberikan pelajaran, maka ada pelajaran yang tertinggal. FAA mengatakan bahwa banyak gurunya yang merupakan PNS sering tidak masuk untuk memberikan pelajaran. Selain itu, DR mengatakan bahwa saat UN terdapat beberapa soal yang sama sekali tidak ia pahami.

Ketidakadilan Atas Kesamaan Mendapatkan Pendidikan Diluar Sekolah

Saya mewawancari DG dan temannya bernama W (off the record), mereka dari sekolah yang sama. W, merupakan siswa yang tidak mampu untuk mengikuti bimbingan belajar diluar sekolah, berbeda dengan siswa lainnya yang mampu untuk mengikuti bimbingan belajar diluar sekolah. Sekolah hanya menyamaratakan bimbingan belajar yang diberikan kepada semua siswa baik mampu ataupun tidak mampu. Siswa yang mampu yang mengikuti bimbingan belajar diluar sekolah, ikut juga mengikuti bimbingan belajar yang disediakan sekolah dengan waktu yang sedikit, maka siswa yang mampu memiliki kemungkinan lebih besar kesiapan untuk menghadapi UN dibanding siswa yang tidak mampu. FAA mengatakan demikian, sekolahnya memberikan bimbingan belajar yang dilaksanakan seminggu sekali.

Keikutsertaan Siswa dan Sekolah Untuk Merumuskan UN

Baik MHL, DG, dan FAA sekolah dan siswa tidak pernah diikutsertakan untuk merumuskan UN di masa depan. Pemerintah tidak memberikan seminar, kuisioner, atau hal lain yang mengajak siswa atau sekolah untuk merumuskan UN.

Ujian Nasional Berbasis Komputer

Berdasarkan wawancara yang saya lakukan terhadap siswa tersebut, mereka memiliki pendapat yang sama, bahwa pemerintah belum siap untuk melaksanakan UNBK. Menurut DG yang merupakan salah satu peserta UNBK, ia mengatakan komputer yang digunakan sering bermasalah, bahkan tidak jarang ada temannya yang harus mengulang UNBK karena server pemerintah yang digunakan untuk UNBK tidak cukup untuk diakses siswa dari seluruh Indonesia yang mengikuti UNBK. FAA berharap agar pemerintah memberikan fasilitas yang memadai, terutama komputer. Karena pelaksanaan UNBK yang dilaksanakan di sekolahnya sekarang (SMA), sekolah masih meminjam komputer atau laptop kepada pihak lain, terutama para guru. FAA takut ketika ia akan melaksanakan UNBK nanti akan mengalami masalah seperti listrik mati, atau koneksi internet yang tidak stabil sehingga membuat hasil UN tidak tersimpan dan akhirnya akan mengulang UNBK dari awal.

Guru Pengawas

FAA mengatakan guru pengawas pada saat ia melaksanakan UN, Guru pengawas tidak benar-benar mengawasi siswa, tak jarang guru pengawas keluar kelas untuk waktu yang lama sehingga memberikan kepada para siswa untuk melakukan kecurangan-kecurangan.

UN Mengganggu Mental Siswa

Siswa yang telah saya wawancarai mengatakan bahwa UN membuatnya Grogi, Depresi dan Stress. Karena siswa-siswa tersebut takut tidak lulus ujian nasional.

Sekolah Untuk Masa Depan

FAA menginginkan supaya siswa sejak masa sekolah sudah dapat menentukan hal-hal yang diminatinya agar saat melanjutkan Pendidikan yang lebih tinggi, siswa dapat lebih mudah menggapainya. MHL berharap yang menentukan kelulusan seorang siswa dari tugas-tugas sekolah yang ia dapatkan. DG berharap juga agar Ujian Praktik dapat dijadikan penentu kelulusan untuk kesiappan didunia kerja.

Keterbukaan Informasi Kepada Siswa

Siswa-siswa yang telah saya wawancarai mengatakan bahwa ia tidak mengetahui informai mengenai bagaimana persyaratan kelulusan yang sebenarnya. Beberapa siswa justru ditakut-takuti tidak lulus jika tidak menyelesaikan atau memperbaiki nilai yang belum memenuhi. Menurut saya, peran sekolah tidak seharusnya menakuti siswa, seharusny sekolah memberitahu kepada para siswa mengenai syarat-syarat kelulusan yang sesungguhnya. Bahkan, banyak siswa yang tidak mengetahui bahwa Pengadilan pernah menyatakan bahwa Ujian Nasional tidak menjadi syarat kelulusan.

Diskriminasi Terhadap Siswa Yang Memiliki Keterbatasan

Terkait dengan siswa yang memiliki keterbatasan, sekolah dimana pelajar yang saya wawancarai mengatakan bahwa sekolahnya tidka memiliki cukup fasilitas untuk menunjang Pendidikan para siswa yang memiliki keterbatasan

Pengembangan Diri Siswa

DG, FAA dan MHL mengatakan bahwa pelajaran yang sekarang menjadi syarat kelulusan tidak cukup untuk mengembangkan siswa. DG, lebih lannjut mengatakan bahwa sebaiknya untuk pengembangan dan persiapan didunia kerja, seharusnya mata pelajaran yang dijadikan UN adalah pelaaran yang praktik.

Analisis Penulis

Menurut saya, pemerintah belum siap untuk melaksanakan Ujian Nasional itu sendiri, karena tiap siswa memiliki minat dan kapasitas masing-masing., selain itu tiap-tiap sekolah memiliki fasilitas yang berbeda-beda. Dengan keadaan tersebut, menguntungkan bagi siswa yang sekolahnya memiliki fasilitas yang baik dibandingkan siswa yang bahkan tidak memiliki fasilitas tertentu. Selain itu, Ujian Nasional memang tidak dapat mengukur seseorang untuk dapat dinyatakan lulus. Ketika pemerintah menyamakan soal-soal dengan kondisi tiap siswa memiliki perbedaan dan minat masing-masing, sama saja pemerintah seakan-akan menyamakan antara monyet, gajah, jerapah, ikan, dan kura-kura untuk bertanding panjat pohon.

Seharusnya siswa memiliki hak untuk menentukan minatnya, dan yang menentukan kelulusan tersebut adalah sekolah dengan ujian-ujian yang sesuai dengan minat yang dipilih oleh siswa tersebut. Berkaitan dengan UNBK, banyak sekolah yang bahkan tidak memiliki lab computer, kualitas guru yang tidak memahami computer, dan banyak siswa yang masih belum mengenal computer. Selain itu, infrastruktur yang dimiliki pemerintah untuk melaksanakan UNBK juga belum baik, server yang tidak stabil, yang memiliki kemungkinan besar server akan down, dan fasilitas lab computer yang tidak memadai, computer yang spesifikasi tidak mendukung untuk dilakukan UNBK, selain itu beberapa sekolah juga tidak memiliki koneksi internet yang baik dan banyak sekolah yang akhirnya meminjam computer atau laptop kepada guru-guru yang memiliki laptop seperti halnya sekolah FAA sekarang. Pemerintah harus memberikan kebebasan menentukan minat para siswa dan memberikan siswa untuk melaksanakan UN sesuai dengan minatnya.

“Ujung-ujungnya Negara, mendingan ga usah sekolah, kaya saya”- MHL

About Muhammad Fikri Alfarizi

2 comments

  1. Banyak typo nya ya kak, tapi tulisan nya bagus ko 😃

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: